Senin, 25 Februari 2008

Arsitektur Dapat Redakan Konflik Etnis

Jurnalnet.com Jurnalnet.com (Surabaya): Arsitektur dapat meredakan konflik etnis, karena jika masjid, pasar, dan ruang terbuka lainnya digunakan untuk semua etnis, maka konflik etnis akan dapat dihindari. "Konflik etnis di Sampit, misalnya, terjadi karena orang Madura menjadikan langgar (surau) sebagai bangunan eksklusif," kata dosen arsitektur Universitas Tujuhbelas Agustus (Untag) Surabaya Retno Hastijanti MT, Senin.

Kandidat doktor dari almamaternya yakni ITS Surabaya itu menjelaskan kerusuhan di Sampit secara arsitektur tampak jelas bahwa orang Dayak merusak rumah yang di dalamnya ada langgar (surau).

"Itu dilakukan karena orang Dayak menandai langgar (surau) sebagai rumah orang Madura, namun surau hanya sekedar tanda, karena rumah di sekitar surau dirusak, tapi surau-nya sendiri aman-aman saja," katanya.

Oleh karena itu, katanya, surau sebagai bangunan arsitektur dapat dijadikan sebagai ruang terbuka yang meredakan konflik jika surau tidak hanya dijadikan tempat eksklusif yang khusus orang Madura.

"Karena itu, ruang terbuka seperti surau, pasar, gelanggang olahraga, dan ruang terbuka lainnya jangan dijadikan tempat khusus etnis atau kelompok tertentu, tapi betul-betul dibuka untuk etnis/kelompok lain," katanya.

Menurut ibu dua anak yang kini juga menekuni ilmu sosio-psikologi itu, konflik di Aceh, Poso, Sambas, Papua, Ambon, dan daerah lain di Indonesia sebenarnya tak perlu dicari penyebabnya.

"Kalau menelusuri penyebab bisa macam-macam, termasuk kaitannya dengan skenario politik, tapi yang lebih penting adalah mencari titik temu untuk memunculkan langkah negosiasi yang mendamaikan," katanya.

Dosen arsitektur yang sering diundang ke luar negeri berbicara tentang resolusi konflik itu mengatakan Masjid Ampel di Surabaya merupakan contoh yang baik untuk ruang negosiasi yang mendamaikan etnis Arab, Cina, dan Madura (Indonesia).

"Bahkan, pusat jajan kya-kya yang dibangun di tengah komunitas Cina di kawasan Ampel, saya kira akan menjadi negosiator bagi ketiga etnis, jika kya-kya menjadi pusat jajan yang terbuka untuk semua etnis atau tidak eksklusif," kata ibu kelahiran Surabaya pada 6 Mei 1967 itu. (ant)***